Venom Lahir dalam Kegamangan Sony Pictures

0
28
views
Ist

Venom pertama kali dirilis sebagai tokoh utama dalam komik Marvel 30 tahun silam. Setelah tarik ulur mengenai hak cipta pembuatan filmnya selama kurang lebih satu dekade, Sony akhirnya meluncurkan Venom ke layar lebar.

Digadang-gadang akan menjadi film anti-hero, mengikuti Dead Pool dan Logan, nyatanya film ini malah jauh di bawah Dead Pool. Sedikit membosankan dan aneh.

Cerita diawali dengan kehidupan Eddie Brock (Tom Hardy) adalah sosok reporter yang ambisius. Melalui program acara The Eddie Brock Report, ia sukses menghadirkan cerita-cerita investigasi dalam tontonan yang menghibur. Mulai dari skandal, bencana, hingga konspirasi.

Eddie yang terlalu ambisius sekaligus idealis nyatanya tak mampu mengontrol egonya. Ini terjadi ketika ia diminta media tempat ia bekerja untuk mewawancara Carlton Drake, bos korporasi bioteknologi Life Foundation. Dari awal Eddie sudah diarahkan atasannya untuk bertanya mengenai hal-hal yang ringan saja mengingat Life Foundation merupakan salah satu penyokong dana terbesar perusahaan media ia bekerja.

Eddie yang penuh dengan rasa penasaran malah bertanya soal isu kematian para sukarelawan dalam riset Life Foundation yang membuat Drake berang. Ia dipecat, diputuskan oleh kekasihnya Anne Weyning, dan menjalani hidup dengan penuh putus asa.

Dalam satu kesempatan ia bertemu dengan Dr. Deborah Skirth, salah satu peneliti pengembangan alien symbiote di laboratorium milik Drake. Eddie yang masuk ke laboratorium milik Drake malah terkontaminasi oleh salah satu alien yang dibawa Drake dari luar angkasa. Selanjutnya, Alien bernama Venom yang selalu lapar dan gemar menyantap mahluk hidup sebagai makanannya tersebut menjadi parasit dalam tubuh Eddie, menguasai pikirannya dan bisa mengubah bentuk fisiknya menjadi monster yang menakutkan.

Berbeda dengan film-film Marvel lainnya, Venom seolah sulit menemukan jalan cerita terbaiknya. Dialog demi dialog yang ditampilkan antar tokoh terkesan kaku. Sang sutradara, Ruben Fleischer yang sebelum membesut Gangster Squad (2013) tak cukup kreatif menghadirkan Venom sebagai film yang layak ditunggu.

Pada akhirnya, penonton hanya diajak untuk menikmati permainan efek demi efek dalam kemunculan sosok alien symbiote yang dianggap sangat brutal namun tak lebih brutal dari Dead Pool atau Logan.

Ini rupanya dipengaruhi oleh kegagalan Venom masuk dalam Marvel Cinematic Universe (MCU) atau jajaran karakter Marvel . Sony malah menjadikan Venom sebagai film pertama dalam semesta baru yang diciptakannya sendiri, Sony’s Universe of Marvel Characters (SUMC).

Ini artinya, untuk sementara waktu kita tak akan melihat Venom bisa bersanding dengan Spiderman atau tokoh Marvel lainnya dalam satu film.

Masalah karakter Venom yang tak sebrutal tokoh aslinya dalam komik. Sony juga memiliki alasan tersendiri. Fleischer dalam sebuah wawancara mengaku tak yakin dengan rating film tersebut.

Sony awalnya memberi rating ‘R’ (Restricted) untuk Venom, namun setelah proses produksi selesai, rating tersebut diturunkan menjadi PG-13. Tak ayal, adegan brutal penuh darah yang jadi kemahiran Fleischer sebagaimana pernah ia tunjukan di film garapannya, Zombieland (2009), pun hilang.

Tak heran jika kritikan datang bertubi-tubi tentang film ini.

Menariknya, meski buruk dan mendapat banyak kritikan film ini mampu memperoleh pendapatan luar biasa bahkan bertengger di punbcak Box Office Amerika. Dalam kurun waktu dua pekan film ini disebut telah menghasilkan $35,7 juta AS (Rp544,3 miliar). Padahal film ini hanya dibuat dengan bujet $100 juta saja.

Banyak yang mengatakan bahwa film ini laris karena banyak dibicarakan orang jauh sebelum film ini diproduksi. Sehingga ketika diluncurkan, banyak orang ingin memuaskan hasrat penasarannya tersebut.

 

 

 

 

 

 

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY