Tsunami Dua Kali Mengancam Nyawanya

0
6
views
Rahmat Saiful Bahri (dok. Ist)

Pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga. Pepatah kuno tersebut dipercaya oleh Rahmat Saiful Bahri (50th) yang dua kali mampu menyelamatkan diri dari gempa dan tsunami.

Saat gempa berkekuatan 7,4 Skala Richter mengguncang Palu, Sigi dan Donggala, Sulawesi Tengah pada 28 September 2018 lalu, Rahmat sedang berada di kamar mandi sebuah kamar di Swiss Belhotel, Palu. Warga Aceh yang menjabat sebagai Kepala Sekretariat Majelis Adat Kota Banda Aceh sebenarnya sudah tiba di kota Palu satu hari sebelumnya. Kedatangannya untuk menghadiri lokakarya nasional best practice implementasi penguatan peran tokoh informal dan lembaga adat, sebuah acara tentang peran adat tradisional daerah dalam kebudayaan Indonesia.

“Baru masuk kamar mandi di kamar, tiba-tiba gempa mengguncang, sampai saya terbontang-banting di dalam kamar mandi,” kata Rahmat ,seperti dikutip dari BBC News Indonesia. Dari kamar hotel yang berada di lantai tiga ia lalu bergerak lari dan naik menuju lantai lima. Padahal ketika itu banyak penghuni hotel yang bergerak turun ke lantai dasar.

“Saat gempa, saya sudah terpikir akan terjadi tsunami, karena letak Palu di dekat pantai. Maka dari kamar hotel yang berada di lantai tiga, saya bukan lari keluar, tapi berusaha lari ke lantai lima untuk menyelamatkan diri, dari kemungkinan tsunami,” katanya.

Perhitungannya benar, tak berapa lama setelah gempa, tsunami datang menerjang daratan Palu. Menghanyutkan semua yang ada di darat. Dari lantai lima, Rahmat melihat ombak setinggi tiga meter menggulung apa saja yang dilewatinya.

Beruntung bangunan hotel cukup kokoh sehingga tak roboh dihantam gempa dan diterjang tsunami.  “Hanya lantai bawah yang rusak,” cerita Rahmat. Setelag gempa lusai dan gelombang tsunami mulai reda, Rahmat dan beberapa orang yang berada di lantai lima pun mulai turun. Mereka bersama-sama berjalan menuju Bukit Sirei, sekitar dua kilometer dari hotel.

Setelah bertahan sekitar setengah hari, Rahmat sendiri bergerak menuju bandara Palu dengan berjalan kaki berharap ada penerbangan yang membawanya kembali ke Aceh.

“Saat gempa, saya sudah terpikir akan terjadi tsunami, karena letak Palu di dekat pantai.”

Di Aceh, keluarga Rahmat cemas menanti kabarnya. Apalagi selama dua hari mereka kehilangan kontak dengan Rahmat. Rabu 3 Oktober 2018, Rahmat akhirnya bisa mendarat di Aceh. 14 tahun lalu, di kampung halamannya ini ia pernah menjadi saksi dalam peristiwa bencana yang paling mengerikan dan lebih dahsyat dari apa yang dialaminya saat di Palu.

26 Desember 2004, gempa berkekuatan 9 SR menghantam Aceh, disusul dengan tsunami dahsyat yang meratakan hampir sebagian besar daratan Bumi Serambi Mekah tersebut. Korban tewas mencapai lebih dari 170 ribu jiwa.

Rahmat Saiful Bahri mengenang, pada 2004 ia selamat dari gempa dan tsunami Aceh dengan berlindung di atas surau yang tinggi. Pengalaman yang memberinya pelajaran penting dalam menyelamatkan diri di Palu.

Di pagi yang nahas tersebut, Rahmat sudah bersiap diri menuju tempat kerjanya setelah sehari sebelumnya ia disibukan mempersiapkan materi pidato walikota untuk rapat paripurna.  Saat terjadi gempa disusul dengan masuknya air laut ke darat, Rahmat Cuma berpikir bahwa itu adalah banjir biasa.

Meski tempat tinggalnya berada di Desa Jeulingke, Kecamatan Syiah Kuala, Banda Aceh, hanya berjarak sekitar satu kilometer dari bibir pantai, ia belum memiliki pengetahuan tentang tsunami. “Saat air laut mulai menggenang saya masih sempat mengunci pintu rumah kemudian membawa keluarga ke surau berlantai dua dekat rumah,” ceritanya. Namun tiba-tiba gelombang tinggi datang, dan menggulung apa saja.

“Banyak orang yang di depan mata kita terhimpit bangunan dan dibawa ombak, semua meminta tolong, tapi kita hanya bisa melihat sampai mereka meninggal. Ia sempat panic karena mengetahui salah satu anaknya tak ada. Untungnya sang anak seudah lebih dulu dievakuasi ke Kabupaten Pidie oleh tetangga.

Apa yang ia alami saat itu menjadi pengetahuannya tentang cara menyelamatkan diri dari gempa dan tsunami. Ia selalu berpikir untuk mencari tempat tertinggi ketika merasakan gempa dahsyat.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY