Tak Hanya Cemari Sungai, Popok Bayi juga Timbulkan Kanker

0
353
views

Tiga juta popok bayi bekas cemari Sungai Brantas setiap hari. Efeknya mulai dari sekedar penyakit perut, pernapasan hingga pemanasan global.

Ecological Observation and Wetlands Conservation  (Ecoton Surabaya) menyakini jika limbah popok yang dibuang warga mencemari Sungai Brantas dan penyebab tingginya kandungan bakteri E.coli di sungai tersebut.

Meledaknya jumlah angka limbah popok di bantaran Sungai Brantas, Jawa Timur, membuat Ecoton harus membentuk tim khusus bernama Brigade Evakuasi Popok (BEP). Menurut catatan mereka, jumlah sampah popok bayi ini mencapai 37 %  dari total semua sampah yang mengotori sungai tersebut.

Menurut Prigi Arisandi, direktur Ecoton Surabaya, dari hasil perhitungan BEP, sedikitnya ada 3 juta sampah popok yang dibuang ke Sungai Brantas setiap harinya. Hitungan ini berdasar pada data Badan Pusat Statistik Jawa Timur tahun 2013 yang menyebut ada 750 ribu bayi yang hidup di 15 kabupaten di bantaran Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas. “Jika satu bayi per hari menghabiskan tiga hingga Sembilan popok, maka perhitungan sampah yang dihasilkan bisa mencapai tiga juta,” jelasnya seperti dikutip dari bbcindonesia.com.

Tingginya angka limbah popok bayi yang dibuang ke sungai, menurut Prigi, juga dipengaruhi oleh mitos yang dipercaya masyarakat setempat. Mitos menyebut, jika popok bekas bayi dibuang dengan cara dibakar  akan membuat si bayi itu menderita ‘suleten’.

Dalam bahasa medis ‘suleten’ diistilahkan dengan sebutan ‘impego’. Yaitu penyakit infeksi kulit yang menyebabkan timbulnya bercak merah dan  perih seperti terkena luka bakar.

Selain mengotori sungai, perhatian Ecoton terhadap limbah popok bayi adalah timbulnya bakteri berbahaya yang malah bisa mengancam kesehatan warga yang tinggal di bantaran sungai. Popok yang dibuang biasanya membawa kotoran bayi yang bisa menjadi sarang bakteri E.coli. Masalahnya, air sungai Brantas kerap digunakan sebagai bahan baku Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Surabaya.

Menyusun peraturan daerah

Menanggapi permasalahan tersebut, Wakil Gubernur Jawa Timur, Syaifulah Yusuf mengatakan pihaknya akan bertindak cepat mengatasi masalah tersebut. Edukasi masyarakat adalah program yang akan ia dorong.

“Pertama, dengan memperkuat regulasi melalui Peraturan Daerah, selain itu kami akan membangun kesadaran masyarakat untuk tidak membuang sampah sembarangan,” jelas Syaiful kepada media di Surabaya. Namun para aktivis lingkungan memandang Perda saja tidak cukup.

BEP Ecoton Surabaya saay melakukan aksi bersih-bersih popok di Sungai Brantas, Jawa Timur (dok. Ecoton)

Bahaya Lebih Besar

The Environmental Protection Agency, sebuah lembaga lingkungan hidup Amerika, seperti dikutip dari Livestrong melaporkan bahwa setiap tahunnya ada 20 miliar atau 3,5 ton limbah popok bayi sekali pakai yang terbuang.

The Good Human, sebuah situs yang fokus pada pembahasan kesehatan lingkungan pernah mempublikasikan tingginya penggunaan popok bayi sekalai pakai di dunia. Menurut data yang mereka miliki, khusus di Amerika, lebih dari 200 ribu pohon hilang ditebang untuk pembuatan popok.

Artinya pembuatan popok bayi menghabiskan 20 kali lebih banyak bahan-bahan alam, dua kali lebih banyak penggunaan air. Dan ketiga kali lebih banyak energi.

Fakta lain adalah, limbah popok bayi membutuhkan waktu sekitar 500 tahun untuk bisa terurai dengan sempurna.  Ini karena kandungan plastic yang terdapat di dalamnya. Akibatnya, limbah popok bayi ini akan mencemari air tanah.

Melepas Zat Kimia Berbahaya

Sementara menurut Atmospheric Radiation Measurement Program, proses penguraian limbah popok bayi  berpotensi melepaskan zat kimia metane ke udara. Dalam jumlah banyak zat ini sangat mengotori udara dan menutup keberadaan oksigen, berbahaya jika terhirup manusia atau mahluk hidup lainnya.

Hasil studi Environmental Health Association of Nova Scotia yang pernah dipublikasikan di “Archives of Environmental Health” menyebutkan juga jika limbah popok melepaskan senyawa organic berbahaya bagi manusia. Antara lain toluene, ethylbenzene, xylene dan dipentene yang bisa menimbulkan efek jangka panjang berupa munculnya penyakit-penyakit berbahaya.

Bahan bagian dalam penyerap air yang ada pada popok bayi berpotensi mengandung bakteri berbahaya yang bisa menimbulkan alergi. Kadungan dioksin juga ditemukan dalam bahan pembuat popok sekali pakai ini. Dioksin merupakan turunan dari proses pemutihan klorin. Senyawa ini memiliki sifat karsinogen yang bisa menyebabkan kanker pada manusia.

Melihat kondisi tersebut, melepaskan ketergantungan pada penggunaan popok bayi sekali pakai, terutama pada kaum ibu-ibu, memang sangat penting dan urgen. Memang praktis, namun jika melihat bahaya yang ditimbulkan jauh lebih besar, seharusnya ini bisa menyadarkan kita semua.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY