Suwe Ora Jamu: Nongkrong Sambil Minum Jamu

0
14
views
dok. suwe ora jamu

Suwe Ora Jamu menawarkan pengalaman baru bagi kaum milenial. Mereka yang pasti lebih akrab dengan tempat-tempat nongkrong yang menyajikan kopi. Tempat ngopi memang tak hanya sekedar tempat santai dan mengobrol, tapi memperluas networking dan sebagai tempat diskusi yang menarik. Tempatnya pun biasanya akan di desain se-cozy mungkin agar pengunjung selalu betah di sana.

Tapi, tahukah bahwa Indonesia memiliki minuman selain kopi dan lebih tradisional? Ya, Jamu. Minuman yang satu ini merupakan warisan yang masih dijaga kelestariannya hingga saat ini. Namun, kini jarang orang menikmati jamu seperti dulu, dimana biasanya selalu ada mbok-mbok dengan gendongan bersarung batik lewat depan rumah yang membawa puluhan botol berisi ramuan jamu beraneka ragam. Tapi seiring perkembangan zaman, jamu gendong mulai kekurangan peminatnya.

Kini, di selatan Jakarta, tepatnya di jalan Salihara, Pasar Minggu, telah berdiri kafe unik yang menyajikan menu jamu sebagai menu utamanya. Berlabel Bar Jamu yang merupakan cabang dari Suwe Ora Jamu, memiliki aneka jamu yang beragam, sepertiĀ  Galian Rapat (untuk wanita yang baru melahirkan), Batuk Sawan (meredakan batuk, masuk angin dan perut kembung), Galian Putri (membentuk tubuh langsing dan menarik), serta minuman sehat lainnya seperti kunyit asem dan beras kencur.

Jamu-jamu ini disajikan dalam botol berukuran 300ml dan tentunya botol ini bisa dibawa pulang oleh pengunjung. Satu botol jamu kunyit asem dan beras kencur di banderol seharga Rp.30.000,-, sedangkan botol jamu untuk penambah stamina atau kesuburan seharga Rp.15.800,-.

Suwe Ora Jamu berada di lantai dua gedung teater salihara membuat pengunjung seperti berada di rumah sendiri. Terbagi menjadi dua ruangan, area merokok dan tidak merokok. Saat naik ke lantai dua, pengunjung akan melalui ruang area merokok terlebih dulu. Di area ini terasa angin sepoi-sepoi yang bertiup masuk ke ruangan, sebab ruangan ini di desain dengan menyisakan celah untuk pertukaran keluar masuknya udara.

Interior Suwe Ora Jamu lebih banyak dihiasi barang-barang antik seperti miniatur patung mbok-mbok penggendong jamu dengan kain dan konde yang tersanggul rapi, yang tak menghilangkan ciri khas jamu-jamu gendong zaman dulu.

Masuk ruangan lebih dalam lagi, ada pintu kaca sebagai pembatas masuk ke ruangan no-smoking, sekaligus di dalamnya berdiri seorang barista jamu di balik meja yang siap melayani pesanan. Di sebelah kirinya berjajar puluhan botol warna-warni beraneka macam jamu di dalam sebuah pendingin berkaca.

Konsep minimalis mendominasi ruangan ini, bisa pilih tempat duduk di sofa atau kursi-kursi tergantung suasana hati. Jendela kaca besar menghadap ke jalan raya salihara, sehingga para pengunjung bisa melihat pemandangan di luar sambil menyeruput jamu hangat-hangat. Sayangnya, kafe ini belum dipasang wi-fi seperti kafe-kafe pada umumnya, sehingga pengunjung akan kesulitan jika harus mengakses internet di sini.

Untuk menjadi tempat kongkow, tempat ini cukup menarik. Tapi kembali ke selera pengunjung, karena tempat ini didominasi dengan menu jamu dan cemilan. Meski ada menu minuman lainnya, namun sayang jika ke tempat ini tak mencoba menu utamanya. Jadi, minum jamu bukan karena sudah menua, tapi lebih untuk manfaat kesehatan. Bukan hanya untuk orangtua, justru sejak muda perlu hidup sehat dengan minum jamu.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY