Sampah Plastik : Tak Melulu Soal Daur Ulang

0
84
views

Sejak 2008 pemerintah sudah mengatur tentang aturan pengelolaan sampah yang wajib dilakukan oleh produsen. Aturan tersebut tertuang dalam Undang-undang Nomor 18 Tahun 2008 pasal 15 yang menyebutkan bahwa produsen wajib mengelola kemasan dan/atau barang yang diproduksinya yang tidak dapat atau sulit terurai oleh proses alam. Artinya, mereka wajib menarik kembali kemasan yang telah mereka produksi dan pasarkan ke masyarakat. Pun aturan sudah diberlakukan, di lapangan minim pengawasan.

Banyak yang menyangsikan apakah pihak industri penghasil kemasan plastik tersebut benar-benar melakukan penarikan kemasan. Apalagi Indonesia memiliki data yang sangat minim mengenai pencemaran sampah plastik di Indonesia. Hal yang mengejutkan kemudian datang di tahun 2015. Jenna R.Jambeck, peneliti asal University of Georgia, Amerika Serikat, dalam risetnya menyebut jika Indonesia merupakan negara kedua terbesar di dunia penghasil sampah plastik. Ia menyebut berat sampah plastik yang disumbang Indonesia mencapai 187, 2 juta ton.

Tahun 2016, Greenpeace Indonesia memulai kampanye audit sampah plastik di laut dan beberapa pulau di Kepulauan Seribu. Selama kurun waktu tiga bulan, September-November, mereka berhasil mengumpulkan 22.603 buah sampah anorganik dari beberapa pulau.Seperti Pulau air, Pulau Karang Congkak, dan Pulau Bokor.

Terdiri dari botol plastik, plastik,metal, kaca, dan karet. Khusus untuk sampah plastik, botol dan kemasan seperti sachet atau pouch, menempati persentase tertinggi. Masing-masing kemasan plastik sekitar 60,98 persen (13,784 buah) dan botol plastik 14,20 persen (3,210 buah). Khusus untuk sampah botol plastik yang paling banyak ditemukan adalah produk air minuman Orang Tua Group (Teh Gelas), Danone (Aqua dan VIT), Wings (ale-ale), dan Mitra Makmur Mandiri (Yasmin).

September 2017 Greenpeace Indonesia kembali melakukan audit sampah. Kali ini dengan cakupan wilayah yang lebih luas. Yaitu, Pulau Bokor (Kep. Seribu), Padang (Sumatra Barat), Pekanbaru (Riau), Bandung (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), dan Yogyakarta. Mereka berhasil mengumpulkan 4.003 jenis sampah plastik yang terdiri dari kemasan pembungkus makanan (41,4 persen), produk perawatan diri (11,2 persen), dan produk rumah tangga lainnya (47,31 persen). Sampah-sampah tersebut kemudian diklasifikasi dan menghasilkan sampah bermerek dari 276 produsen.

Lima produsen penghasil sampah tertinggi adalah Unilever (4,22 persen),Wings (3,25 persen), Indofood (2,92 persen), Danone (2,40 persen), dan Orangtua Group (2,05 persen). Tahun 2018, audit kembali dilakukan Greenpeace Indonesia di tiga lokasi berbeda. Yaitu di Pantai Kuk Cituis (Tangerang), Pantai Pandansari (Yogyakarta) dan Pantai Mertasari (Bali). Audit yang dilakukan sepanjang September ini berhasil mengumpulkan 10. 594 produk kemasan plastik dari berbagai merek dan produsen. Antara lain Santos, P&G, Danone, Dettol, Unilever, dan Indofood. “Kami juga menemukan cukup banyak produk kemasan plastik yang sudah tak terlihat lagi mereknya,” jelas Muharam Atha Rasyadi, Juru Kampanye Urban Greenpeace Indonesia dalam siaran persnya (4/10).

Atha menilai sampah-sampah tersebut bisa berasal dari masyarakat sekitar atau terbawa arus dari tempat lain.

Produsen : Permintaan Masih Tinggi

Maria Dewantini Dwianto, Head of Coorporate Communication, PT Unilever Indonesia mengakui jika penggunaan kemasan plastik untuk produk mereka masih tinggi. “Karena dari survei kami, permintaan masyarakat untuk produk dengan kemasan sachet atau pouch ini masih lumayan besar,” jelas Maria saat ditemui Samudra di sela-sela acara Our Ocean 2018 di Bali. “Tentu kami mempertimbangkan kebutuhan ini, antara dari segi bisnis dan kepentingan kebersihan lingkungan.”

Unilever, katanya,saat ini sudah mencoba mengurangi penggunaan material plastik yang lebih ringan, mudah didaur ulang hingga mengecilkan ukurannya namun dengan tidak mengurangi volumenya. Sementara terkait dengan aturan pemerintah agar produsen menarik kembali dan mengelola sampah plastik yang sudah dihasilkan, Maria menjelasan jika saat ini Unilever sedang menyiapkan teknologi daur ulang sampah plastik sachet atau pouch.

Teknologi bernama CreaSolv Process yang diadopsi dari Jerman ini dikatakan mampu memisahkan lembar per lembar material plastik yang membentuk kemasan sachet agar kemudian bisa didaur ulang dengan mudah. Unilever sendiri, menurut Maria, sudah menyiapkan pabrik khusus untuk pengembangan CreaSolv Process ini di Sidoarjo, Jawa Timur. Mesin yang digunakan disebut mampu mendaur ulang sampah kemasan plastik hingga 3 ton per hari. “Tantangan terbesar kami saat ini adalah bagaimana mengumpulkan kembali sampah-sampah kemasan yang sudah kami hasilkan tersebut,” kata Maria.

Pemerintah Belum Tegas

Greenpeace Indonesia juga menyoroti Peraturan Presiden Nomor 18 Tahun 2018 tentang penanganan sampah laut yang menurut mereka beleum tegas untuk mendorong produsen agar mengubah kemasannya dari sekali pakai menjadi dapat diisi ulang atau digunakan secara terus menerus.

Pasalnya di dalam PP tersebut hanya mengutamakan produksi plastik yang mudah terurai dan didaur ulang. “Bila kebijakan perusahaan dan pemerintah hanya sebatas daur ulang dan penggunaan plastik ramah lingkungan, maka target Indonesia mengurangi sampah plastik di laut hingga 70 persen pada tahun 2050 sepertinya hanya sekedar angan-angan,” jelas Atha.

Hal senada ditegaskan oleh Jacqueline Savitz, Chief Policy Officer Oceana. Menurutnya komitmen perusahaan-perusahaan yang disampaikan belum dianggap sebagai langkah yang tepat.”Untuk mengurangi sampah plastik, perusahaan-perusahaan tersebut harus berupaya mengurangi jumlah plastik sekali pakai langsung di pabrik-pabrik yang menjadi sumbernya langsung sebelum sampai ke tangan konsumen,” tegasnya. Namun, kata Jacqueline aksi tersebut belum terlihat dari perusahaan-perusahaan produsen plastik sekali pakai.

Sebelumnya, di sela Our Ocean Conference 2018, Senin 29 Oktober 2018,  beberapa perusahaan melakukan deklarasi bersama terkait penanganan sampah plastik melalui daur ulang.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY