Penyebar Virus Bertani Anak-anak Belitung

0
17
views

Bagi Muladi (38) bisa menularkan kegemaran bertani pada anak-anak di era serba digital ini merupakan suatu kebanggan yang luar biasa. Agar Tak hilang generasi petani di Masa datang.

Pria asal Desa Terong, Dusun II Bubuteh, Tanjung Pandan Belitung ini awalnya sama sekali berpikir untuk mengajak anak-anak belia di kampung terjun ke sawah dan melakukan cocok tanam. “Saya sendiri mulai menjadi petani sejak tahun 2009 mewarisi lahan pertanian kedua orangtua saya,” ceritanya Kepada SNID di Tanjung Pandan, 28 April 2018 lalu.

Hari-hari dan rutinitas yang ia jalani sebagai petani pun berjalan seperti biasa. “Erlan, anak saya yang saat itu masih duduk di kelas 5 SD selalu ikut serta ke ladang, menggali tanah, menanam, dan merawat tanaman-tanaman sayuran kami,” jelasnya.

Kebiasaan Erlan beraktivitas di ladang in rupanya menarik perhatian anak-anak lain seusianya. “Mereka awalnya main-main ke ladang, dan ikut membantu aktivitas kami,” tutur Muladi.
Muladi memperhatikan jika antusias anak-anak belia ini untuk bertani rupanya cukup tinggi. “Sampai akhirnya saya ajarkan mereka cara bercocok tanam sayur-sayuran,” katanya.

Di tahun 2014 Muladi lalu memberikan 2 lajur lahannya untuk digunakan anak-anak tersebut bercocok tanam. Satu lajurnya memiliki luas 12 m x 1 m. “Saya katakan kepada mereka untuk mengelola dan merawat sendiri lahan yang sudah saya berikan,” jelasnya.

Gembira dengan ‘hadiah’ yang diberikan Muladi, anak-anak ini selanjutnya terlihat serius menggarap lahannya. “Mereka banyak belajar dan tak malu-malu menjalani profesi sebagai petani ketika anak-anak lain seumurannya sibuk dengan gadget,” kata Muladi.

Pelan namunĀ  penuh dengan keyakinan, lahan garapan anak-anak ini rupanya mulai menuai hasilnya. Hasil panen pertama sengaja Muladi berikan keuntungannya semua untuk anak-anak. “Dengan begitu mereka mulai merasakan hasil dari jerih payahnya,” jelasnya.

Memiliki ‘uang jajan’ tambahan dari hasil keringat sendiri rupanya menjadi pemicu bagi anak-anak ini untuk terus bercocok tanam. Mereka kemudian mulai belajar untuk mengelola hasil pertanian hingga manajemen pemasarannya.

Anak-anak ini juga kemudian mulai merekrut anak-anak lain untuk bergabung. “Hasilnya bahkan ada yang bisa membeli motor,” kata Muladi.

Bangga tentu terus dirasakan Muladi. Maklum ditengah gempuran teknologi, ia sadarĀ  sulit sekali rasanya menemukan anak di masa milenial yang masih mau terjun dan berkotor-kotoran di sawah untuk bertani.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY