Oceana Pastikan Peru Mengikuti Indonesia

0
44
views
Ilustrasi (oceana.org)

Komitmen Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dalam memberantas kejahatan Illegal Unreported, Unregulated Fishing telah menginspirasi banyak negara untuk melakukan hal serupa. Pemanfaatan teknologi Global Fishing Watch (GFW) oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan yang memberikan akses ke publik untuk mengetahui pergerakan kapal-kapal ikan berperangkat Vessel Monitoring System (VMS), salah satunya mulai ditiru oleh Peru.

Pada Jum’at 26 Oktober 2018, beberapa hari menjelang Our Ocean Conference 2018 yang berlangsung pada 28-29 Oktober 2018 di Bali, Peru mengumumkan telah mengikuti Indonesia untuk menggunakan GFW.

Mengutip dari siaran pers yang dirilis Oceana.org, organisasi advokasi internasional yang fokus pada isu-isu kelautan. pada Jumat (26/10), di Peru, sedikitnya ada 1300 kapal-kapal ikan yang sebelumnya tidak terdeteksi GFW’s Automatic Identification System (AIS) data kini sudah terdata di GFW.

“Dengan membuka data-data ke kapal, Peru telah melakukan langkah signifikan dalam hal transparansi data perikanan,” jelas Tony Long, CEO Global Fishing watch. Menurut Tony, Peru juga sudah memanfaatkan one night-time imagery data yang memungkinkan kapal-kapal yang beroperasi di malam hari bisa terdeteksi juga. “Kam juga telah mempercayakan kepada Peru untuk mengakses peta dan data kami untuk memperkuat kapabilitas sistem mereka dalam mengontrol kapal-kapal di perairan mereka.”

Peru merupakan negara dengan industri perikanan terbesar di dunia setelah Cina dan merupakan ‘rumah’ bagi Teri Peru, salah satu jenis ikan alam tunggal yang paling banyak ditangkap di dunia.

Di Picu oleh Kanada

Ada hal menarik dari ketertarikan Peru dalam membuka transparansi data di Global Fishing Watch. Itu terjadi dalam perhelatan G7 Ministerial Meeting yang berlangsung di Halifax, Kanada pada awal Oktober 2018.

Dalam satu sesi pertemuan, Pemerintah Kanada mengumumkan secara resmi bergabung Bersama Global Fishing Watch untuk membuka transparansi data kapal ke publik. Perwakilan Peru yang hadir langsung menyatakan komitmennya bahkan mengalokasikan anggaran hingga 11,6 juta USD atau sekitar Rp176 miliar.

“Kami sangat bangga ketika mengetahui pemerintah kami memutuskan untuk memanfaatkan seluruh sistem Global Fishing Watch,”  kata Patricia Majluf, Vice President, Oceana Peru. “Meningkatkan transparansi akan membantu Peru dalam meningkatkan potensi sumber daya perikanan di laut kami.”

Sebagai tuan rumah Our Ocean 2018, Indonesia merupakan negara pertama yang membuka transparansi data kapal perikanan melalui Global Fishing Watch pada 2017.Dan menjadi negara dengan jumlah data perikanan terbesar yang terbuka di Global Fishing Watch.

 

 

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY