Menghadap Laut, Mengurangi Ancaman Sampah Plastik

0
25
views

Dari 366 ribu ton kantung plastik  yang diproduksi di Indonesia, ada sekitar 85 ribu ton yang terbuang dan mencemari lingkungan. Bisa menimbulkan kanker pada manusia. Kita bisa apa?

Bagi Tiza Mafira, Direktur Gerakan Indonesia Diet Kantung Plastik, volume sampah plastik di laut sudah menjadi ancaman masa depan bangsa. Ia menyebut angka 150 juta ton sampah plastik di laut bukan lagi hal sepele namu sudah darurat.

Mengutip perkiraan World Economic Forum (WEF), di tahun 2050 jika tak segera ditangani, bukan tak mungkin jumlah sampah plastik di laut lebih banyak dari jumlah ikan.  “Kebanyakan sampah plastik adalah plastik sekali pakai, yang baru akan terurai setelah ratusan tahun tetapi dipakai untuk hal-hal yang sifatnya sekali pakai langsung buang,” kata Tiza.

Baca Juga : Bisakah Plastik Berbahan Tanaman Menjadi Solusi?

“Kemungkinan ikan yang kita tangkap di laut sudah mengandung mikroplastik,” jelasnya. “Dari satu plastik saja bisa tersebar hingga 84 ribu mikroplastik.”

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti juga sudah mewanti-wanti mengenai bahaya mikroplastik ini bagi kehidupan di laut yang ujungnya mengancam kehidupan manusia. “Jika mikroplastik termakan  oleh ikan, lalu  ikan tersebut dikonsumsi kita, bagaimana nilai kesehatannya? bagaimana nilai jualnya? Ini harus dipikirkan bersama,” jelas Menteri Susi.

Dr rer nat (Doctor Rerum Naturalium atau Doktor Ilmu Sains) Budiawan, ahli toksikologi Universitas Indonesia kepada Kompas.com pernah mengungkapkan, bahwa bahaya mikroplastik lebih dari yang kita bayangkan selama ini. Ukuran mikroplastik yang tidak lebih dari 1 sampai 5 milimeter ini  lebih kecil ketimbang kutu rambut (Pulex irritans) atau plankton Sagitta setosa membuatnya sulit terurai.

“Ketika masuk ke dalam tubuh, ia akan tertahan di dalam organ dan sulit disekresikan (dikeluarkan), organ tubuh bisa terganggu,” kata Budiawan.  Menurutnya, organ seperti ginjal atau hati akan sangat mungkin mengalami gangguan fungsi kerjanya.

Belum lagi kehadiran  polybrominated diphenyl ether (PBDE), unsur pembentuk material tahan api, yang kemungkinan terkandung dalam botol plastik  harus diwaspadai karena mampu mengganggu enzim kesuburan.

Pemerintah Indonesia sendiri sudah berkomitmen untuk mengurangi 70 persen sampah plastik di laut pada 2050.

Untuk menuju itu, Menteri Susi mengajak seluruh masyarakat Indonesia saling bahu membahu mendukung gerakan yang ia namakan Pandu Laut Nusantara. “gerakan untuk mengajak masyarakat di seluruh Indonesia untuk lebih peduli terhadap kelestarian laut,” ujar Menteri Susi.

Salah satu gerakan yang dilakukan adalah aksi nasional “Menghadap ke Laut pada 73 Titik” pada 19 Agustus 2018, yang mencakup kegiatan bersih-bersih di sekitar wilayah perairan nasional. Melalui gerakan ini ia ingin agar masyarakat  menunjukkan kepedulian terhadap kawasan perairan dengan cara memunguti sampah di kawasan pesisir serta memperingatkan berbagai pihak mengenai dampak sampah plastik di perairan.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY