Menelusuri Keberagaman Masyarakat Manusia oleh Jared Diamond

0
78
views

Seolah sudah menjadi kodrat bahwa masyarakat dari sisi sosial tak ubahnya sebagai wahana untuk menggapai tujuan. Meski tak bisa dibantah tak sedikit perbedaan yang mewarnai individu-individu yang membentuknya. Dan, dalam konteks yang lebih besar tak bisa dipungkiri masyarakat pun  selalu tampil begitu beragam. Terbukti, masyarakat manusia di satu wilayah atau negara tak selalu sama dengan kelompok masyarakat di wilayah lainnya. Gaya hidup yang modern nampak sekali begitu dominan di satu wilayah, tapi di wilayah yang lain justru berbanding terbalik. Jangankan memiliki fasilitas canggih, mungkin melihatnya pun nyaris tak pernah. Mereka seakan masih terbelenggu pada pola hidup yang sederhana. Bahkan, tak sedikit yang tetap berkutat pada pola-pola hidup yang primitif.

Di era yang serba canggih seperti saat ini menemukan masyarakat dengan sentuhan modernisasi yang sangat kental tentunya bukan hal yang sulit. Hal serupa juga cukup mudah untuk mengenali masyarakat manusia yang hidup dalam keterbatasan. Peta yang menggambarkan kondisi-kondisi demikian di dunia ini tentu sangat mudah untuk ditelusuri.

Pastinya, ada perbedaan gaya hidup yang sangat mencolok di antara keduanya. Nah, sebagai representasi masyarakat manusia yang modern saat ini terwakili oleh mereka yang hidup di negara-negara Eropa, Amerika, sebagian di daratan Asia dan juga Australia. Sementara sebagian besar negara-negara di benua Afrika, sebagian Asia boleh dibilang mewakili masyarakat manusia dalam kategori berkemampuan terbatas, atau bahkan minus.

Lantas, kenapa kesenjangan tersebut bisa terjadi? Atau dengan kata lain, hanya masyarakat di daratan Eropa, Amerika serta sebagian Asia saja yang bisa menikmati modernisasi, sementara mereka yang hidup di negara-negara sebagian di daratan Afrika, sebagian Asia dan beberapa bagian lain di dunia ini justru masih sangat terbelakang. Bisa jadi, semua pertanyaan itu selalu saja mengemuka. Khususnya di tengah masyarakat yang tinggal di wilayah dengan tingkat kemajuan jauh dari teknologi yang mumpuni.

Salah satu contoh, pertanyaan serupa pernah terlontar dari mulut Yali, seorang politikus Papua Nugini yang juga sahabat Jared Diamond, penulis buku “Guns, Germs & Steel” (Bedil, Kuman dan Baja), Rangkuman RIwayat Masyarakat Manusia. “Kenapa kalian orang kulit putih membuat begitu banyak barang berharga dan membawanya ke Papua, tapi kami orang kulit hitam memiliki begitu sedikit barang berharga sendiri?”

Rasanya, tanpa perlu didaulat, pertanyaan Yali ini sangat mungkin bisa dijadikan sebagai representasi dari kegundahan jutaan, atau bahkan miliaran masyarakat yang senasib dengannya di bagian lain dunia. Pertanyaan sederhana yang disasar kepada Penulis, namun cukup menohok itu tak bisa dipungkiri sangat mengusik pemikiran sang Penulis. Sebab, tak mudah menemukan jawaban dari pertanyaan yang nampaknya sangat simpel itu. Dan, akhirnya dari kegundahan Yali itu kemudian penulisan buku “Guns, Germs, & Steel” itu berawal.

Tak seperti kebanyakan penulis, Jared Diamond dalam penulisan buku yang pernah menyabet Hadiah Pulitzer 1998 ini memiliki teknik tersendiri. Jika penulis lain biasanya selalu memanfaatkan teknik penulisan yang to the point. Atau, dalam konteks ini, yang jadi pokok bahasan adalah tentang masyarakat modern, maka yang kemudian dikupas adalah masyarakat yang modern itu sendiri. Sangat berbeda dengan  metoda ala Jared Diamond. Dia tidak langsung menukik pada masyarakat modernnya, melainkan sebab-sebab atau riwayat yang menyebabkan masyarakat itu jadi modern.

Dalam pandangan penulis lain, gaya penulisan Jared Diamond jelas sangat tidak biasa. Menurut mereka, Jared adalah penulis yang memandang sejarah dunia tak ubahnya seperti bawang. Persepsi yang meletakkan dunia modern sebagai kulit terluar. Sehingga, setiap lapisan harus selalu dikupas jika ingin mencari pemahaman sejarah.

Tentu, cara yang ditempuh Jared bukan perkara mudah. Perlu waktu penulusuran serta perjuangan yang panjang. Sebab, dia tidak saja sebatas mengulik dari sisi genetika manusianya, tetapi juga background politik yang terjadi pada masa terkait, serta kondisi lingkungan pada saat itu. Dan, pola itu tak berhenti pada satu zaman saja, tapi terus berkelanjutan sejauh mungkin, mengacu pada falsafah bawang. Bahkan secara tegas penelusuran Jared Diamond dalam rangka menjawab pertanyaan Yali tersebut sampai pada kurun waktu 13.000 tahun sejak zaman es berakhir.

Tak sedikit rahasia di balik sejarah panjang perjalanan masyarakat manusia yang berhasil diungkap. Satu demi satu dari setiap zaman mulai mampu menjawab atas kegundahan Yali di Papua Nugini, bahkan Yali-Yali lain di belahan dunia lain. Tak seperti penulis lain yang kerap hanya fokus pada wilayah tertentu saja, khususnya Eurasia dan Afrika Utara, Jared justru banyak menyelami sejarah masyarakat manusia yang lebih luas, di luar itu. Sebab itu, logis jika mengacu pada gaya penulisannya, buku “Guns, Germs, & Steel” menjadi begitu detail dan sangat lengkap. Apalagi cara penyajiannya yang menggunakan gaya bahasa komunikatif membuat buku ini menjadi enak dibaca. Mau menambah wawasan tentang sejarah masyarakat manusia? Jadikan buku karya Jared Diamond ini sebagai pegangan?


Anda juga bisa berpartisipasi menuliskan resensi buku-buku favorit Anda.

Kirim naskah ke : redaksi@majalahsamudra.com atau samudrateam@yahoo.com dengan subject Resensi Buku.

Kami berhak mengedit naskah yang masuk.

 

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY