Berapa Orang yang Membantu Alfred Wallace di Nusantara?

0
13
views
Alfred Russel via Wikimedia Commons, CC BY-SA.

Ekspedisi pengumpulan spesimen Alfred Russel Wallace di Asia Tenggara antara 1854 dan 1864 sudah sepantasnya terkenal. Beberapa penemuannya yang bersejarah dan masih penting saat ini adalah teori evolusi berdasarkan seleksi alam dan pembagian hewan ke dalam kelompok-kelompok berdasarkan garis hipotetis yang membelah suatu wilayah geografis yang disebut sebagai Garis Wallace.

Penulis : John van Wyhe, National University of Singapore

Dia adalah naturalis pertama yang mengunjungi berbagai pulau kecil dan menemukan beragam fakta baru mengenai perilaku dan persebaran hewan serta ribuan spesies baru. Banyak dari catatan perjalanannya menyebutkan koleksi mengagumkannya yang terdiri dari 125.660 spesimen mamalia, reptil, burung, kerang dan serangga.

Bukunya The Malay Archipelago (1869) (diterjemahkan dalam bahasa Indonesia oleh penerbit Komunitas Bambu dengan judul Kepulauan Nusantara) telah menginspirasi generasi-generasi naturalis dan penjelajah baru. Banyak yang tahu bahwa ia membayar dua asistennya yakni Charles Allen dan seorang pemuda bernama Ali dari Sarawak. Namun belum pernah sepenuhnya dihargai seberapa besar masyarakat lokal berperan dalam perjalanan dan koleksi Wallace.




Baca juga:
‘I am Ali Wallace’, the Malay assistant of Alfred Russel Wallace: an excerpt


Dengan menelusuri berbagai publikasi, surat, dan buku catatan Wallace dengan memperhatikan bantuan-bantuan yang ia sebutkan, besarnya peran masyarakat lokal menggambarkan suatu hal yang penting dan baru mengenai perjalanan Wallace. Temuan-temuan dan keberhasilannya tidak akan mungkin tanpa bantuan dari ratusan penduduk lokal.

Tidak semua orang yang Wallace pekerjakan untuk menembak burung, memasak, mendayung perahu, menjadi kuli angkut, pemandu atau penerjemah tercatat. Meski angka yang sesungguhnya tidak mungkin dapat diketahui, kita masih dapat bisa memperkirakan jumlah orang yang berperan membantunya dalam satu lokasi tertentu berdasarkan bukti-bukti tertulis yang masih ada. Beberapa contoh dapat menggambarkan jenis bantuan krusial yang diterima oleh Wallace.

Selagi ia menetap di suatu desa di pinggiran Makassar, Wallace menawarkan kepada anak-anak lokal bahwa kalau mereka mau “membawakan saya kerang dan serangga, mereka bisa mendapatkan koin yang banyak.” Wallace pun mendapatkan banyak “kumbang dan kerang yang dibawakan oleh korps kolektor kecilku setiap hari.”

Di Seram ia mempekerjakan “seorang bocah dari Awaiya yang telah terbiasa menangkap kupu-kupu untukku.” Seorang laki-laki dari Langowan, Sulawesi, menangkap seekor Pergam tutu (Ducula forsteni atau White-Bellied Imperial Pigeon) yang ia “telah lama cari.”

White bellied Imperial Pigeon.
SandyCole via Wikimedia Commons, CC BY-NC-SA

Saat ia tinggal di Buru selama dua bulan, Wallace dibantu oleh raja lokal, enam belas pendayung, delapan laki-laki Alfuro yang membawakan koper-kopernya, dan dua laki-laki tambahan yang membukakan jalan baginya di hutan tempat ia menemukan cukup banyak serangga untuk koleksinya.

Ia juga mendapat informasi dari penduduk lokal mengenai burung-burung di Pulau Sula yang ia catat dalam bukunya. Pengetahuan masyarakat lokal sangat penting bagi Wallace untuk mengetahui di mana hewan-hewan tersebut dapat ditemukan dan mereka kerap memberitahu Wallace di mana ia dapat menemukan jenis-jenis satwa yang belum ditemukan.

Berikut adalah rincian estimasi jumlah penduduk lokal yang membantu Wallace di titik-titik utama pengumpulan spesimen.

Terdapat banyak perbedaan di antara Wallace dan para asistennya. Ia berasal dari negara industri nun jauh. Ia terdidik. Ia dapat membaca bahasa Inggris, Prancis, dan Latin. (Ia juga belajar bahasa Melayu). Ia tahu banyak mengenai sains.

Foto Alfred Russel Wallace, diambil di Singapura, 1862.
Marchant, James (1916) Alfred Russel Wallace — Letters and Reminiscences, Vol. 1, London, New York, Toronto and Melbourne: Cassell and Company via Wikimedia Commons, CC BY

Meski dipisahkan oleh berbagai perbedaan tersebut, Wallace, seperti asisten-asistennya, adalah seorang pemuda yang pada saat itu sedang membuat jalannya sendiri di dunia. Ia sedang mencari nafkah. Dan Wallace juga bekerja untuk orang lain karena para kolektor dan museum di negara asalnya membeli spesimen-spesimen yang telah ia kumpulkan untuk mendanai perjalanannya.

“Bala tentara” yang membantu Wallace selama perjalanannya menunjukkan bahwa ia berhasil berinteraksi dengan berbagai orang dari beragam budaya. Hal tersebut juga menggambarkan keramahan serta kemampuannya untuk membangkitkan rasa simpati dan keinginan orang-orang lain untuk membantu orang asing aneh yang tertarik mengoleksi hewan-hewan mati yang tidak berharga.

Wallace bukan seorang genius penyendiri atau, sesuai dengan panggilan populer yang lahir dan menggema dalam dua puluh tahun terakhir, seorang “ahli biologi lapangan terbaik dalam abad kesembilan belas.”

Wallace bukan seorang ahli biologi lapangan. Titel tersebut adalah sebuah konsep modern. Ia adalah seorang kolektor spesimen dan naturalis era Viktoria. Kedua konsep tersebut adalah hal yang berbeda. Seperti halnya, kita tidak akan menganggap dia sebagai seorang ilmuwan, suatu istilah yang pada saat itu tidak dipakai dan mengandung konotasi suatu pekerjaan dari zaman dan budaya yang berbeda. Wallace hidup dan bekerja pada waktu sebelum zaman sains profesional.

Namun apa yang bisa kita hargai sekarang adalah bahwa paling tidak 1.210 orang yang kebanyakan adalah penduduk dari apa yang sekarang negara Indonesia, telah membantu Wallace mencapai berbagai pencapaiannya. Karena ketidaksempurnaan dalam catatan tertulis, angka sebenarnya bisa saja dua kali lipat. Pada intinya, Wallace tidak sendirian.


Artikel ini adalah kutipan yang telah diedit dari “Wallace’s Help: The Many People Who Aided A.R. Wallace in the Malay Archipelago” yang telah diterbitkan di Journal of the Malaysian Branch of the Royal Asiatic Society.The Conversation

John van Wyhe, Historian of science, National University of Singapore

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY