Banda Neira dan Benteng yang Melindunginya

0
17
views
Pemandangan Benteng Belgica di Banda Neira, Maluku (dok.Indonesia.biz.id)

Banda Neira itu eksotis, pasti. Banyak orang, khususnya wisatawan baik domestik maupun mancanegara, yang pernah melancong ke sana setuju soal itu. Selain menyuguhkan nuansa yang begitu tenang dan teduh, destinasi wisata ini menyimpan pesona alam yang luar biasa. Terlebih, pemandangan bawah lautnya. Siapapun sulit membantahnya, bahwa perairan Banda Neira menyimpan pembandangan bawah laut menawan, setara dengan dive spot berkelas lain di negeri ini.

Dan, ada objek lain yang sejatinya bisa dinikmati di destinasi wisata ini. Yakni, bangunan bersejarah, seperti: benteng, gereja tua, istana mini dan banyak lagi. Nah, bangunan-bangunan tersebut jelas menjadi nilai lebih yang sangat sayang untuk dilewatkan. Pasalnya, selain enak dipandang, bangunan-bangunan itu pasti akan membuka wawasan tentang sejarah masa silam di Banda Neira khususnya dan sekitarnya.

Benteng tak bisa dipungkiri merupakan bangunan kuno yang pastinya menjadi magnet untuk dilihat serta ditelisik. Bagaimana tidak, karena melihat arsitektur serta ukurannya saja bisa jadi mampu mengundang keingintahuan siapapun. Belum lagi banyak sisi lain dari bangunan ini yang bisa disimak lebih dalam, khususnya terkait riwayat atau sejarah pendiriannya. Asal tahu saja, di bumi Banda Neira berdiri lebih dari satu benteng, dengan spesifikasi yang pastinya berbeda-beda. Dan, perbedaan ini jelas menjadi poin urgent yang sangat menarik untuk diungkap. Sekaligus, tentunya menjadi magnet bagi khususnya para wisatawan.

Baca Juga : Sebuah Suguhan Wisata Sejarah Berkelas 

Tercatat ada 12 buah benteng yang nampak begitu kokoh berdiri di bumi Banda Neira. Baik dari sisi arsitek maupun ukuran, semua benteng tersebut berbeda-beda. Namun dari sisi sejarah atau latar belakang hampir semuanya menginduk pada keberadaan kolonial Belanda. Benteng-benteng tersebut adalah Belgica, Nassau, Hollandia, Revenge, Concordia, Culenburg, De Post, Calombo, De Pot, De Morgenster, Lakui dan Ourien.

Bukan cuma benteng yang membuat Banda Neira makin “mentereng” sebagai sebuah destinasi wisata, tapi juga banyak bangunan bersejarah lain. Satu di antaranya gereja tua, yang sudah berumur berabad-abad dan sempat mengalami gempa bumi dahsyat yang nyaris menghancurkan keseluruhan bangunannya. Tapi, kemudian gereja tua tersebut ¬†dibangun kembali pada 1852, digunakan sebagai tempat beribadah orang-orang Belanda.

Kemudian, Rumah Budaya Banda Neira. Di bangunan bergaya Belanda ini tersimpan benda-benda bersejarah tentang Banda Neira. Tujuannya, untuk mengingatkan tentang upaya masyarakat Banda dalam mempertahankan wilayahnya. Di tempat ini tersimpan pula Spice Eaves, lonceng kuno yang digunakan untuk mengingatkan para pekerja – warga Indonesia asli – terkait waktu memulai dan berhenti bekerja. Tak ketinggalan, Istana Mini. Bentuknya mirip istana Bogor dalam versi mini. Dahulu menjadi tempat tinggal Gubernur Jenderal VOC, Jan Pieter Coen. Sebab itu, di tempat ini tersimpan banyak peninggalan penjajah Belanda. Bahkan, goresan kaca pesan pembantu rumah tangga asal Perancis yang bunuh diri tersimpan di sini.

Yang tak boleh dilupakan tentunya Rumah Pengasingan Bung Hatta dan Sutan Sjahrir. Sebagai sebuah tempat pengasingan tentu bisa dibayangkan benda-benda apa saja yang tetap tersimpan. Salah satu yang masih tersimpan apik adalah mesin tik kuno. Semua barang tersebut tentu masih tersimpan dan terawat baik. Sebab itu, berwisata di Banda Neira, wisatawan tak hanya bisa menikmati suguhan pemandangan alam serta bawah laut saja yang luar biasa indahnya, tetapi juga akan diajak untuk menyelami sejarah masa silam melalui bangunan-bangunan peninggalan bersejarah tersebut.

Mau tahu lebih detail bangunan benteng di Banda Neira? Ini beberapa di antaranya: 1. Belgica. Benteng ini merupakan peninggalan VOC, letaknya di Kota Neira. Dibangun pada 1611 oleh Gubernur Jenderal Pieter Both. Karena bentuknya, benteng ini dijuluki “The Pentagon of Indonesia”. 2. Nassau. Benteng ini peninggalan Portugis, tapi kemudian pembangunannya dilanjutkan oleh Belanda. Dibangun pada 1609, letaknya di Pulau Neira. Karena dikelilingi parit yang digenangi air laut, benteng ini kemudian disebut waterkasteel. 3. Hollandia. Benteng ini disebut pula Fort Lonthor, dibangun pada 1624, di atas sebuah bukit di Desa Lonthor, Pulau Banda Besar.

Agus A. Abdullah

 

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY