Bagaimana Layanan 4G Berkembang Cepat dalam 3 Tahun

0
36
views

Kementerian Komunikasi dan Informatika mengungkapkan jika kehadiran layanan 4G LTE terus meningkat di Indonesia sejak dikomersialkan mulai 2014 lalu. Layanan internet generasi ke-4 tersebut kini telah menjangkau 45.811 desa atau kelurahan, 4.088 kecamatan, dan 331 kabupaten atau kota di Indonesia.

Seperti diungkapkan oleh Menkominfo, Rudiantara, sejak penggunaannya digenjot mulai 3 tahun lalu, saat ini sudah ada 62.291 eNode B (BTS 4G) dibangun semua operator di Indonesia.

Rudi, yang menjadi pembicara dalam diskusi betema “Entering The Next Phase of Data Era” di Jakarta, Rabu (14/03/2018), mengungkapkan bahwa untuk kehadiran layanan jaringan 4G di desa atau kelurahan itu presensi sudah 55,05%. “Sementara di kecamatan sudah 56,98%, dan kabupaten 64,6%,” jelasnya.

“Ini memang tidak gampang untuk membangun site secepat itu,” kata Rudi. “Tapi bisa tumbuh dua ribu dalam 2 tahun 800 hari.”

Artinya, kata Rudi, dalam satu hari  rata-rata terbangun 80 . “Tapi memang masih ada daerah yang bolong karena mahalnya backbone dan transmisi,” katanya tentang masih adanya beberapa wilayah yang belum terjangkau layanan 4G.

Sementara itu, beberapa operator telepon seluler di Indonesia juga mengakui tinggi pertumbuhan layanan data setelah hadirnya layanan 4G. “Tahun 2017 unaudited, data tumbuh 126% sedangkan revenue hanya tumbuh 26%. Ini masih pekerjaan soal scissor effect dari layanan data,” kata VP Next Generation Network Telkomsel Ivan Cahya Permana.

Menurut Ivan, Telkomsel juga telah memaksimalkan tambahan frekuensi di 2,3 GHz untuk layanan 4G. “Berkat tambahan frekuensi di 2,3GHz kita makin ngebut bangun BTS 4G. Saat ini untuk 4G sudah ada 500 site,” ungkapnya.

Di sisi lain,  Group Head Commercial LTE XL Axiata, Rahmadi Mulyohartono mengungkapkan salah satu isu yang menurutnya masih menjadi Pekerjaan Rumah (PR) bagi operator dalam menghadirkan layanan 4G di Indonesia. Yaitu adalah masalah ketersediaan frekuensi. “Harapan kami yang tengah rajin bangun di luar Jawa, ada kesempatan untuk nambah frekuensi kita akan ambil,” katanya.

Hal yang sama juga diakui oleh Direktur Utama Smartfren Merza Fachys. Menurutnya selain ketersediaan frekuensi, masalah lain yang menjadi tantangan dalam mengembangkan 4G adalah di ketersediaan infrastruktur backbone dan transmisi. “Tak bisa lagi andalkan microwave untuk transmisi, harus fiber optik. Harapan kita dipermudah bangun fiber optik di perkotaan untuk ke akses (radio),” katanya.

Wakil Direktur Utama Tri Indonesia M Danny Buldansyah mengatakan perseroan tengah agresif membangun 4G setelah mendapatkan tambahan frekuensi di 2,1 GHz. “Layanan Tri kedepan akan lebih baik untuk data dengan ada tambahan frekuensi,” katanya.

Infografis: Samudranews.id

Akses data kecepatan 4G LTE berstandar komunikasi dasar nirkabel tingkat tinggi pada jaringan GSM/EDGE dan UMTS/HSDPA sehingga memungkinkan peningkatan kapasitas dan kecepatan dengan menggunakan teknik modulasi baru. Di Indonesia 4G LTE menggunakan pita 1.800 MHz selebar 5MHz sehingga pelanggan bisa menggunakan layanan aplikasi berkecepatan 80-100 Mbps. Pertama kali 4G LTE Telkomsel diuji coba pada 11 September 2013 di Nusa Dua, kecepatannya mencapai 61 Mbps atau empat kali lipat 3G berbasis HSPA.

Print Friendly, PDF & Email

LEAVE A REPLY